I
nfomenia.net -  Setelah gembar-gembor soal temuan obat Covid-19, Universitas Airlangga (Unair), TNI Angkatan Darat, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Kimia Farma masih irit bicara proses produksi. Sampai saat ini belum ada kejelasan nota kerjasama produksi massal obat Covid-19 antara Kimia Farma dengan TNI AD, BIN, dan Unair.

Saat dikonfirmasi soal kejelasan tentang kerjasama itu, GM Corporate Secretary Kimia Farma Ganti Winarno Putro tidak banyak memberikan penjelaskan. ’’Kita mendukung TNI AD,’’ kata Ganti, Minggu (16/8). Sayangnya, dia juga tidak menjelaskan wujud dukungan tersebut. Termasuk ketika ditanya mengenai perkiraan produksi dan harga obat nantinya.

Aksi irit bicara ini juga dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Saat dikonfirmasi mengenai izin edar obat Covid-19 Unair ini, Kepala BPOM Penny Lukito hanya mengatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan penjelasan soal perkembangan kombinasi obat tersebut. Ia meminta publik menunggu. ”Akan ada penjelasan dari Badan POM (nanti,Red),” ujarnya seperti dikutip Jawa Pos, Senin (17/8).

Dikonfirmasi terpisah mengenai temuan ini, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menuturkan, bahwa penelitian tersebut tidak dilakukan di bawah Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. Sehingga, penelitian tidak dibiayai langsung oleh konsorsium.

Kendati demikian, Bambang mendukung penuh upaya berbagai pihak untuk melakukan penelitian yang digunakan untuk memerangi pandemi Covid-19 saat ini. ”Kami apresiasi upaya berbagai pihak, sejauh memenuhi protokol perizinan obat,” ujarnya melalui pesan singkat kemarin. Dia menekankan, bahwa izin dari BPOM nantinya akan jadi kunci dari temuan tersebut. ”Yang penting izin BPOM,” sambungnya.

Disinggung soal upaya tim konsorsium dalam riset obat Covid-19, Bambang mengatakan bahwa hal itu juga dilakukan. Dia mengatakan, LIPI telah melakukan penelitian terkait efektivitas suplemen fitofarmaka atau bahan herbal pada pasien Covid-19. Uji klinis ini dilakukan secara langsung pada pasien di RS wisma atlet. ”Rencananya selesai hari ini (Minggu, red) dan hasilnya diserahkan ke BPOM. Setelah ini akan dilakukan uji klinis obat bahan herbal lainnya,” jelas Mantan Menteri Keuangan tersebut.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sendiri telah mengkonfirmasi bahwa uji klinis imunomodulator atau obat dari tanaman herbal untuk pasien Covid-19 sudah rampung. Artinya, bakal obat Covid-19 yang sudah menyelesaikan tahap uji klinis bertambah lagi.

Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Imunomodulator Herbal untuk Penanganan COVID-19 dan peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Masteria Yunovilsa Putra mengatakan sudah melakukan submit ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). ’’Butuh berapa lama? Tergabung BPOM-nya,’’ katanya kemarin (16/8).

Masteria mengatakan uji klinis yang melibatkan 90 orang pasien positif Covid-19 di Wisma Atlet itu dilakukan untuk dua produk. Yakni Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ini terdiri dari rimpang jahe merah, daun meniran, sambiloto, dan daun sembung. Dia menjelaskan kombinasi herbal tersebut sudah diformulasikan dan memiliki data stabilitas serta sudah memiliki prototipe-nya.

Riset imunomodulator LIPI itu dikebut sejak 8 Juni lalu. Uji klinis melibatkan 90 orang dengan rentang usia 18-50 tahun. Selama uji klinis itu, ramuan tadi diberikan selama 14 hari. Pasien dipilih yang memiliki gejala pneumonia ringan. Kemudian pasien tidak hamil atau menderita penyakit lain. Seperti demam berdarah, demam tifus, gangguan jantung, gangguan ginjal, serta tidak memiliki alergi terhadap produk yang diujikan.

Menurut Masteria, tujuan utama uji klinis itu melihat apakah waktu yang diperlukan untuk mencapai perbaikan gejala klinis non-spesifik menjadi lebih pendek durasinya. Secara lebih detail, LIPI rencananya memaparkan tentang uji klinis itu hari ini (16/8). ’’Uji klinis juga ditujukan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai hasil RT-PCR negatif setelah adanya perbaikan gejala klinis,’’ paparnya.(redaksi)