Film Eks HTI Memutar-balikkan Fakta dan Sejarah Islam di Nusantara Hingga Catut Nama Prof Carey ? Simak Faktanya - redaksionline.com

Film Eks HTI Memutar-balikkan Fakta dan Sejarah Islam di Nusantara Hingga Catut Nama Prof Carey ? Simak Faktanya


redaksionline.com - 
Film Jejak Khilafah sendiri dibuat oleh Felix dkk, untuk mengarahkan opini publik bahwa raja-raja Islam di Nusantara adalah bagian, atau setidaknya menjadi relasi, pemerintahan Turki Utsmani. 

Padahal,, Prof Carey sudah menuturkan, Turki Utsmani sama sekali tidak peduli dengan Jawa, apalagi bermitra dengyaan raja Nusantara ketika itu. Islam juga masuk ke Indonesia tidak melalui jalur ekspansi politik, tidak melalui jajahan Turki Utsmani. Islam masuk melalui jalur penetrasi budaya, masuk secara damai.

Berikut ini bahasan soal Film Jejak Khilafah yang viral di Twitter:

1.. Para simpatisan dan anggota eks HTI ini semakin menjadi² dalam mengadu domba umat Islam yang ada di Nusantara.


2. Mereka mau menghilangkan sejarah kedatangan Islam di Indonesia yang sebenarnya, dgn versi mereka sendiri lewat film propaganda tsb.

Film yang dibuat mereka itu sasarannya adalah rakyat Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
3. Segala cara dan semua lini akan dimasuki pengasong khilafah, untuk memporak-porandakan NKRI dgn selalu mengatasnamakan "AGAMA" sbg kedok untuk tujuan yg ingin mereka raih.

Salah satunya lewat film itu dgn tujuan untuk menghilangkan fakta sejarah datangnya Islam ke Indonesia.
4. Pesan saya jangan bosan² untuk membaca fakta, agar kita tahu dan mengerti bagaimana cara mereka yang dgn culas dan licik seperti yg selalu mereka pertontonkan selama ini.

Baik lewat demo yang berjilid², framing nya dgn Kalimat Tauhid yang dianggap sbg bendera Rosulullah, dll.



 8. Dalam poster acara tersebut, ada beberapa dedengkot HTI menjadi pemateri: Nicko Pandawa, Ismail Yusanto, Rokhmat S. Labib, dan @felixsiauw.

9. Sementara sebagai narasumber itu ada Tengku Zulkarnain, Mizuar Mahdi, Alwi Alatas, Moeflich Hasbullah.


ada juga yang sempet menjadi polemik kemarin, siapa itu?


Bliau adalah, Profesor Peter Carey, sejarawan otoritatif tentang Nusantara dari Oxford, juga di dicatut.


10. Pencatutan nama Prof Carey dalam talkshow tersebut, kemudian, diklarifikasi oleh asisten risetnya, Feureau Himawan Susanto, setelah bertanya kepada Prof Carey langsung.

11. Dan hasilnya, ia berkata tak pernah terlibat dlam agenda² semacam itu dan apa yg tertera dlam poster itu ?


Murni itu kebohongan, fitnah, dan keburukan intrik politik para agen khilafah itu.


Prof Carey diedit sedemikian rupa, seakan beliau mengkonfirmasi agenda licik mereka.

12. Jelas, ini merupakan intrik paling buruk, di mana para aktivis khilafah sudah bermain-main di pusaran otoritas akademik.


Boleh jadi, itu karena mereka sadar, Felix Siauw dan Ismail Yusanto saja tidak cukup kuat, dan orang-orang menganggapnya sampah tak bermutu.




 14. Felix dkk, sudah membelokkan Sejarah yang sangat memalukan, biadab, itu kata yg pas untuk mereka dedengkot khilafah, terutama pada Felix Siauw & Ismail Yusanto.


Karena apa ? Ya mereka melakukan segala cara, menghalalkan segala bentuk fitnah, agar bisa mengelabui masyarakat.

15. Seharusnya, itu bisa membuat kita yakin, dan juga bisa membuat pengikutnya sadar diri, bahwa segala yang di sampaikan para pengusung khilafah itu adalah kebohongan besar.


Bagaimana bisa mereka mengatakan berpolitik sesuai ajaran Islam tapi melakukan fitnah? Coba pikir bats!

16. Sebenarnya Film Jejak Khilafah sendiri itu dibuat Felix, dkk, untuk mengarahkan opini publik bahwa raja raja Islam di Nusantara itu adalah bagian, atau setidaknya menjadi relasi, pemerintahan Turki Utsmani.

17. Padahal, aslinya, Prof Carey juga sudah menuturkan, Bahwa Turki Utsmani sama sekali tidak peduli dengan Jawa, apalagi bermitra dengan raja Nusantara ketika itu.

18. Dan islam pun ketika masuk ke Indonesia tidak melalui jalur ekspansi politik, dan tidak melalui jajahan Turki Utsmani.

Islam masuk ke Indonesia itu melalui jalur penetrasi budaya oleh para wali dan masuk nya pun juga secara damai.


Kalau masih ragu, coba kalian baca dan pelajari buku Atlas Walisongo sebagai fakta sejarah, karangan Kyai Agus Sunyoto, ketua Lesbumi PBNU.

19. Jejak Khilafah, konon, itu ada tiga episode. Episode pertamanya akan tayang 20 Agustus nanti, tiga hari setelah perayaan HUT RI ke-75.


Felix Siau dan Ismail pun juga sudah membahas panjang film tersebut ketika launching kemarin.

20. Kesimpulannya, mereka bersama rekan² pengusung khilafah, ingin membelokkan sejarah Nusantara.


Umat akan dibuat bingung dan membenci negara Indonesia yang demokratis.


Semangat yang berusaha dibawa film itu ialah: “Ayo kita kembali ke pangkuan khilafah ala pendahulu kita!”

21. Penipuan demi penipuan terus dilakukan, sambil mengatakan kepada umat bahwa ada semacam pemutar-balikan sejarah di Indonesia.


Padahal, merekalah sendiri yang justru memanipulasi sejarah, lalu kenapa malah menuduh balik? Lol bukan ?

22. Para aktivis khilafah di Indonesia tak punya rekam jejak yang jelas, dan semuanya adlh mantan politikus kadaluarsa yang tiba² berlagak membela Islam.


Coba tanyakam pada Ismail, Felix, dkk, emangnya mereka itu sudah benar² paham sejarah? Heleh Palsu ! Blegedess

23. Pada tataran yang lebih mendalam, mereka itu sebenarnya juga telah menipu ketika mengatakan bahwa Turki Utsmani itu menerapkan sistem khilafah.


Khilafah itu, juga sudah ada banyak yang menjelaskan dalam banyak tulisan, berarti itu ‘pemerintahan’, bukan sistem spesifik.

24. Ketika seseorang bilang, ‘khilafah Turki Utsmani’, maka ia sdg berkata ‘pemerintahan Turki Utsmani'


Lalu sistem pemerintahan kayak apa yang dimaksud? Monarki-absolut?


Jika ia, maka kata @ustadtengkuzul bahwa tegaknya khilafah itu tak bahaya bagi NKRI, adlh tipuan berikutnya

25. Tidak hanya mencatut, mereka juga menipu di atas penipuan lainnya. Termasuk film Jejak Khilafah ini. Lalu, Apakah kita akan tetap anggap hal itu aman² saja?


Jangan! Kita wajib memikirkan kembali anggapan tersebut, sebelum negeri ini runtuh di tangan mereka.

26. Jejak Khilafah itu ancaman yang nyata lho, Meski film Jejak Khilafah belum tayang dan menghipnotis umat,


Itu sudah membutakan mereka dari sejarah Islam Jawa yang fakta dan sebenarnya. Jadi, langkah kita harus tegas, harus segera diambil dari sekarang.

27. Kesalahan fatal pemerintah dgn gerakan² aktivis khilafah itu ialah tidak ada tindakan yang tegas.


Dan sampai saat ini pemerintah hanya melakukan perang wacana saja kepada mereka. Itu jelas tidak efektif.

Pemerintah akan kalah masif, secara pergerakan. Jika mereka sampai lolos membuat film begini, itu artinya, mereka tidak kosong saku, untuk setiap agendanya² berikutnya.

28. Film Jejak Khilafah memang tidak akan membuat sistem politik berubah.


Tapi, film itu bisa memengaruhi masyarakat agar tidak lagi simpati kepada pemerintah di satu sisi.


Dan menggiring umat Islam ke dalam sejarah palsu yang dibuat-buat oleh para simpatisan Hizbut Tahrir.

29. HTI memang sudah di bubarkan, tetapi untuk mengatakan pergerakan mereka musnah, kita sudah salah besar.


Mereka itu belum mati, mereka akan bergerak terus dan, kini, mereka mulai membesar bahkan tanpa terakomodir dalam satu organisasi sekalipun.

30. Jadi, langkah yg bisa ditempuh ialah melarang film tersebut, atau mengedukasi umat bahwa film tersebut, 100% adalah manipulasi sejarah.


Umat harus diarahkan untuk keluar dari zona indoktrinasi, zona penipuan Felix dan aktivis khilafah lainnya, tentang delusi negara Islam.

Dan saat ini Indonesia pun juga tidak kurang Islami kog. Karena itu, film Jejak Khilafah sama sekali tidak penting,


Kecuali untuk membangkitkan emosi umat melalui pembelokan sejarah oleh aktivis pengasong khilafah itu sendiri.

31. Dan yang terpenting, Islam di Indonesia tak ada kaitannya dengan Turki Utsmani, bukan koalisi politik mereka.


Turki Utsmani memang luas teritorinya dan sangat lama memerintah, tetapi bukan di Nusantara.

32. Diponegoro, kata Prof Peter Carey, memang kagum dengan Turki Utsmani, tetapi bukan bagian darinya.


Jika ada yang mengatakan demikian, pasti, mutlak, orang itu adalah budak Felix dkk, atau korban penipuan² mereka.


Wallahu A’lam bi ash-Shawab 🙏